Rabu, 12 September 2012
Fontana di Trevi
fontana di trevi atau sering juga disebut trevi fountain, adalah air mancur tercantik dan paling terkenal di kota Roma. hadir dengan sebuah kolam yang menyajikan patung-patung indah karya Nicola Salvi, dibuat pada pemerintahan Paus Clement XII. ada mitos yang mengatakan, kalau kita melempar koin ke dalam kolam air mancur ini, dengan posisi tubuh kita memunggungi air mancur, niscaya kita akan kembali lagi ke kota ini.
Senin, 10 September 2012
ketika dokter berdoa
Bapaku di sorga,
setiap langkah di dalam perjalanan hidupku adalah karena rancangan-Mu yang indah. rancangan yang terbaik, yang Kau sediakan, bahkan sebelum aku ada. sebelum aku sendiri mampu mengerti apa artiku untuk hidup.
Kau lah Bapa yang setia menjaga dan memelihara setiap langkah hidupku, agar senantiasa berada dalam rangkaian perjalanan peziarahan hidup.
sebagai seseorang yang Kau tugaskan sebagaimana aku sekarang, kiranya Bapa tetapkan aku untuk senantiasa menjadi dokter yang takut akan Bapa. sebab takut akan Tuhan adalah landasan setiap kebaikan hati dan ketulusan. kebenaran-Mu biarlah menjadi pelita langkah hidupku.
jauhkanlah daripadaku keinginan mengumpulkan materi dan harta benda, menjadi hebat lagi tinggi hati. biarlah aku menjadi perpanjangan tangan-Mu yang renah hati dan menunduk pada firman-Mu. kiranya aku bekerja dengan setia di kebun anggur-Mu.
cukupkanlah rizki bagiku sesuai dengan kehendak-Mu saja. ajar aku menerima upah sorgawi yang terlebih besar lagi. sebab aku mengetahui, ketika kutemukan Kerajaan Allah, maka segalanya akan ditambahkan kepadaku. maka biarlah aku bekerja demi Kerajaan-Mu.
janganlah secara sadar maupun tak aku sadari, aku merampas yang bukan menjadi hak-ku, membebani mereka yang datang sebagai pasien, melahirkan jerit penderitaan mereka yang bertambah. biarlah aku peka dan tidak menjadi batu sandungan kepada mereka yang mencari penyembuhan.
pakailah aku sesuai rencana-Mu, utuslah aku di mana Kau rasa aku mampu menghadapi setiap badainya. di tempat aku boleh berkarya dan melayani bukan justru dilayani. memberi dan bukan untuk diberi.
dan Bapa, katakanlah kepada mereka yang berharap lebih kepadaku, aku bekerja di ladang anggur-Mu, kepunyaan-Mu dan tak lagi ingin memikirkan hal-hal duniawi. mereka yang paling hina adalah saudara-saudaraku. rekan-rekanku di dalam Kerajaan sorga kelak.
dan setiap pergumulanku, Bapa, aku serahkan hanya di dalam tangan-Mu yang selalu mengangkatku dan memulihkanku.
AMIN
dan aku bermimpi tentang dunia yang baru
sudah hampir satu tahun aku menjalani masa kepaniteraan klinik ini. sudah enam rumah sakit. enam suasana berbeda. berat selalu diawalnya, tapi lalu menyisakan kenangan yang manis setelahnya.
malam ini aku terpikir tentang satu hal. tentang tujuan hidupku. kadang aku melamun, kalau aku bicara soal tujuan hidupku yang bukan jadi dokter terkenal di kota besar, apa orang lain akan paham?
aku bermimpi tentang sebuah pengabdian di daerah terpencil. aku ingin benar-benar merasa "ada" ditengah masyarakat. aku ingin sekali pergi jauh dari jakarta. sumpek. mati. ya. kota mati. kota tanpa kegilaan-kegilaan. kota hampa.
aku tak pernah berpikir jadi dokter yang kerja di klinik 24 jam di kota, digaji sekian puluh ribu per pasien, jaga malam, atau kesibukan lainnya itu.
aku senang berandai-andai, bekerja di sebuah daerah yang sangat terpencil, yang mungkin aku hanya akan dibayar dengan sekarung singkong. aku ingin ada di tengah-tengah mereka yang lebih membutuhkanku. aku ingin menemukan jalan hidupku sendiri, di sana, di tempat aku merasa lebih berarti, lebih ada artinya dan tentu lebih bahagia
tidak terpikir hidup di kota, kaya, banyak uang, sama sekali tidak. itu bukanlah seperti yang aku mau.
aku di sini, sebagai dokter muda, yang hampir selalu mendengar mereka bilang aku "salah jurusan", tapi aku tak lagi mau ambil pusing. aku tak lagi peduli. terserah mereka bilang aku salah jurusan, tapi di hatiku, kupegang teguh sumpah Hipocrates yang akan aku ucapkan kelak. saya akan menghargai setiap kehidupan mulai dari proses pembuahan.
kalau aku salah jurusan, takkan aku biarkan aku menyakiti diriku sendiri. berlelah-lelah dengan segala jenis kepaniteraan ini. buat apa kalau aku tidak punya sebuah tujuan yang aku kejar?
aku mencintai pekerjaanku, dan pekerjaan ini adalah misi kemanusiaanku. misi sosialku. takkan ada yang bisa mengubahnya.
dear matahari
dear matahari,
hai. apa kabarmu di ujung senja ini? aku lama tidak mendengar apapun tentangmu. lebih kepada karena aku memang tidak ingin mendengarnya sih. aku sedang berusaha mengubur semua cerita yang pernah ada diantara kita. aku sudah banyak berubah dan kau juga pastinya begitu.
aku berencana kembali, ke kota kecil tempat pertama kali kita bertemu. aku datang mungkin bukan hanya untukmu, tapi aku ingin juga membuktikan kepadamu, aku masih tegar berdiri di sini. aku tak serapuh itu.
jujur saja, matahariku, aku cukup kecewa dengan "peristiwa" yang membuat hubungan kita berantakan seperti sekarang, tapi aku sekaligus bersyukur, ini memang sudah seharusnya berakhir.
terima kasih untuk senja-senja yang manis, yang selalu kamu bawa di waktu itu. aku bahagia pernah menikmatinya..
Rumah di Seribu Ombak
aku sudah nonton film-nya sebelum aku baca novelnya. maklumlah, aku bukan lagi aku yang dulu. aku tak lagi mengecek emailku saat daftar buku-buku terbaru dikirimkan kepadaku. aku sudah tak banyak mengikuti perkembangan novel-novel dan karya sastra terbaru yang bermunculan. aku jauh ketinggalan.
rumah di seribu ombak karya erwin arnada ini sungguh memukau sejak awal aku membacanya. kalimatnya mengalir dengan indah namun tidak bertele-tele. aku suka caranya menceritakan sebuah peristiwa. mendetail namun tak membosankan.
rumah di seribu ombak menceritakan persahabatan dua orang anak laki-laki di singaraja, bali. dua orang sahabat yang sama-sama berjuang untuk keluar dari trauma masa kecilnya. Samihi, anak muslim yang takut dengan laut dan yanik, anak Hindu yang punya trauma dengan seorang pria asing pedofilia.
persahabatan dua anak manusia yang terasa begitu manis sekaligus getir. samihi dan yanik saling membantu, saling berbagi dan saling mengerti.
erwin arnada berhasil menghanyutkanku dalam novelnya. aku begitu menikmati pantai lovina yang diceritakanya. aku begitu terbawa suasana dengan penggambarannya tentang lumba-lumba, tentang surfing dan tentang sebuah persahabatan abadi antara samihi dan yanik.
sekali lagi erwin arnada menyajikan eksekusi yang membuatku menarik nafas lega. seperti inilah novel yang aku suka. inilah karya sastra. bukan angan-angan mimpi semata, tapi menunjukkan sebuah hal yang lebih mendekat pada realita.
rumah di seribu ombak, aku jatuh hati sejak halaman pertamanya dan terkagum-kagum sampai pada akhirnya..
Sabtu, 08 September 2012
selamat wisuda, kekasihku
dear X,
sayang, selamat ya atas wisudamu hari ini. aku ikut berbahagia untukmu. aku bahkan ingin meneteskan air mata karena betapa bahagianya aku melihatmu bahagia. sekarang ini baru aku sadar apa artinya bahagia itu. bahagia adalah saat aku melihatmu tersenyum, tertawa dan melihat wajahmu yang sumringah karena luapan bahagiamu. sayang, andai aku boleh memelukmu dan kita luapkan sama-sama rasa bahagia yang membuncah ini.
dari foto-fotomu, aku melihatmu hari ini gagah sekali. kemeja biru dan celana panjang hitam, ditambah dasi yang begitu serasi dengan kemejamu. kamu nampak seperti pangeran kota, dan kamu makin terlihat gagah dengan jubah hitammu. bahagiaku bertambah setingkat lagi menyadari kamu benar-benar seseorang yang pas untukku. ya, PAS, sayang. kamu pas, bukan sempurna, karena kalau kamu sempurna, lalu buat apakah kehadiranku di sisimu, sayang? kamu adalah sebuah ke-pas-an yang akan nampak sempurna bila dipadukan denganku. ya, KITA.
hari ini aku melihatmu begitu bahagia. kamu seolah tak mampu berhenti tersenyum dan tertawa, dan bukan itu saja, sayang, kalau kau tersenyum, bukan hanya bibirmu yang tersenyum, tapi matamu juga, hidungmu juga, pipimu juga. setiap jengkal anatomi tubuhmu tersenyum menyambut hari kelulusanmu. aku benar-benar menikmatimu yang bahagia. kalau saja senyummu bisa dibingkai, aku mau ambil seluruhnya, aku bingkai dan pajang di kamar tidurku, supaya setiap aku resah, aku boleh melihatnya, bahagiamu akan menular kepadaku setelahnya.
aku ucapkan selamat untukmu, sayang. selamat telah menyelesaikan satu lagi babak dalam episode hidupmu. congratulation, sayang. sekarang kamu sudah jadi sarjana. sudah dapat gelar seperti yang kamu mau.
terima kasih telah menyertakan aku jadi bagian dari kepingan-kepingan perjuanganmu. adalah sebuah kebahagiaan menemanimu dalam setiap langkahmu. waktu kau kuliah, menyelesaikan skripsi sampai sidang skripsi yang katamu sangat mendebarkan. hari itu aku ikut-ikut gelisah memikirkanmu. apa ujian skripsi itu sama menyeramkannya dengan ujian pasien, sayang?
tapi hari ini, lupakan soal kesusahan-kesusahan kemarin. bahagia saja, sayang. tersenyum. tertawa. nikmati hari ini dengan caramu.
sayang, walaupun kamu tidak jadi seperti yang kamu impikan sejak kita masih duduk di sekolah menengah, tapi aku percaya kamu tetap bahagia. mungkin memang bukan di angkasa sana tempat kau akan mengabdi. di sini, di dekatku saja, sayang, supaya aku tak akan terlalu risau. kau bayangkan saja, kalau kau jadi penerbang, aku pasti akan jadi yang paling gelisah setiap kali kau akan membelah angkasa. ingat waktu kita sama-sama mendengarkan lagu "leavin on a jet plane", lagu yang juga masih sering aku dengar hingga saat ini dan lagu itu selalu mengingatkanku pada semua mimpi-mimpi kecil kita.
sayang, setelah ini babak baru dimulai. aku berdoa untukmu selalu, semoga kamu cepat mendapat pekerjaan seperti yang kamu inginkan. katamu, supaya bisa cepat terima gaji, menabung dan nanti kita pergi ke Pantai Lovina.
aku masih ingat betul mimpi-mimpimu, tentang menikmati laut Lovina dengan lumba-lumba yang akan menyambutmu dengan senang, lalu menikmati sunset di Kuta yang begitu memukau. kita akan menonton orang-orang berselancar di tengah laut dan kita akan menikmati aroma laut yang kental di negeri seribu pura.
tapi sayang, kalau ternyata kau harus melewati proses yang lebih panjang, janganlah takut sayang, kau harus tetap berjuang. untuk setiap jengkal mimpi-mimpimu. kau harus bersabar dan tak boleh putus asa.
dan ini saja yang aku janjikan di hari kelulusanmu, aku akan selalu ada di belakangmu, melindungi bayanganmu. aku tak pernah jauh. kau seharusnya sudah tahu kemana kau harus kembali saat lelah menyergap. aku tak pernah sekali-sekali meninggalkanmu.
aku akan tetap bersamamu, sampai kau mampu berjalan sendiri, atau sampai waktunya kau yang tentukan, bahwa sudah ada yang lain yang melindungimu lebih intim. dan saat itu, sayangku, aku akan meninggalkanmu dengan tetap bahagia..
Bekasi, 8 September 2012
Senin, 20 Agustus 2012
Masa Kecil Soekarno
Soekarno merupakan anak dari Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayahnya berasal dari Jawa sementara ibunya berasal dari Bali .
Tidak seorangpun pada masa kecil Soekarno yang bisa meramalkan kelak Soekarno kecil akan menjadi seorang pemimpin besar, bahkan menjadi salah satu tokoh yang membawa bangsa Indonesia kepada kemerdekaan.
Masa balita dan kanak-kanak Soekarno masih tetap kelabu. Ekonomi orang tuanya yang pas-pasan, membuat hidup Soekarno terasa begitu sulit. Sehari-hari dia hanya makan tahu tempe dan sayur singkong. Namun walau begitu, Soekarno tidak pernah mengeluh. Dia tetap menggemari masakan sederhana itu, bahkan sampai ia menduduki bangku kepresidenannya.
Ketika Soekarno masih kecil, ia layaknya anak-anak seusianya. Tidak ada tanda-tanda yang membuat orang bisa menebak kelak dia akan menjadi orang besar. Namun satu hal yang menonjol dalam dirinya, Soekarno adalah seorang pemberani sekaligus senang berkelahi. Tak jarang Soekarno pulang dari sekolah dengan wajah yang babak belur. Tapi toh dia bangga. Walaupun tidak menguasai ilmu beladiri, namun dengan modal keberanian dan kenekadannya, Soekarno mampu mengalahkan lawan-lawannya.
Keberanian memang sebuah langkah awal menuju ke kemenangan. Dan sifat-sifat pemberaninya ini, sebenarnya memang diwarisinya dari kedua orang tuanya. Ida Ayu, ibunya, merupakan seorang keturunan bangsawan Bali yang dalam sejarah tercatat sebagai anti penjajah. Sedangkan Raden Soekemi, ayahnya, juga merupakan keturunan pejuang. Kakeknya dulu pernah ikut mendampingi Pangeran Diponegoro dalam menghadapi tentara Belanda.
Sejak masa kanak-kanaknya pun Soekarno telah membenci Belanda. Namun kebenciannya bukan tanpa alasan. Kebenciannya didasarkan pada sikap dan tingkah laku orang-orang Belanda yang amat merendahkan bangsanya.
Dalam pegaulan sehari-hari, Soekarno tidak jarang mengalami perlakukan yang kurang menyenangkan dari pada sinyo-sinyo Belanda.
Sikap keterlaluan ini pernah juga dialami Soekarno dengan gurunya sendiri, pada saat sekolahnya menyelenggarakan lomba menggambar. Soekarno memang memiliki bakat melukis sejak kecilnya. Dengan cepat dia mampu menyelesaikan lukisannya, bahkan dengan hasil yang paling bagus diantara yang lainnya. Ya, paling tidak menurut para pribumi pada umumnya. Namun ternyata gurunya berpendapat lain. Yang keluar sebagai pemenang dalam lomba tersebut justru temannya, orang Belanda. Sedangkan Soekarno hanya menduduki peringkat kedua. Padahal, lukisan temannya itu tidak lebih bagus dari lukisan Soekarno.
Sebagai anak-anak, Sekarno hidup sebagaimana anak muda pada umumnya. Suka berkelahi, suka mandi di kali, pergi memancing, atau nonton wayang. Nonton wayang ini juga merupakan saklah satu kegemarannya, bahkan hingga ia tuapun masih tetap disenanginya.
Soekarno mulai menunjukkan bakat kepemimpinannya ketika ia berusia sepuluh tahun. Saat itu ia sudah menjadi pemimpin kelompok dan memang nampak menonjol diantarateman-temannya yang lain. Di usianya yang kedua belas bahkan dia sudah memiliki ‘pasukan’ sendiri yang beberapa anggotanya berusia lebih tua darinya.
Kepribadian yang kuat, pemberani dan berbakat adalah hal-hal yang membuat teman-teman Soekarno senang bergaul dengannya. Soekarno selalu dijadikan pemimpin oleh teman-temannya. Selain itu juga, sering kali hal-hal apapun yang dilakukan Soekarno diikuti oleh teman-temannya yang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)
