Powered By Blogger

Zona Laut Biru

satu-satunya yang aku suka adalah : MENULIS, soal yang lain masih boleh ditawar, tapi MENULIS adalah satu-satunya duniaku yang tak pernah berdusta

Kamis, 29 November 2012

tiap kepingan kecil

sudah dari sananya, aku ini seseorang yang senang mengingat kebaikan hati orang lain, namun nilai negatifnya, aku juga bukan seseorang yang mudah melupakan bila ada orang yang pernah menyakiti hatiku. aku terlalu punya banyak kapasitas di dalam lobus-lobus otakku. 

 

malam ini aku jaga sore lagi. jaga sore ini sedikit diwarnai rasa kesalku, tapi tak lah terlalu masalah, sebab aku memang suka jaga di IGD. aku tak peduli lagi soal adil atau tidak adil. terserah mereka yang mengatur jadwal. semakin banyak kesempatanku jaga di IGD, semakin aku punya banyak kesempatan menghibur diriku dengan segala jenis canda dan tawa yang ada di sana, seperti yang mas Y selalu bilang, "di sini tempat kalau kamu lagi badmood, karena kamu bisa ketawa-ketawa lagi, lupa sama semua rasa kesalmu." YEY! benar banget.

 

sore ini jaga dengan kak T, kak Y, mas Y, mas A dan kak E. dari awal datang, sudah senang saja bawaannya. kerja dengan kakak-kakak IGD ini memang selalu mengasyikan. aku sudah datang jam 16.20 di IGD, lagian bosan juga di kost. lebih seru jaga bareng. lagipula, susunan personil sore ini sangat mengasyikan. 

 

aku banyak ikuta mas A, baik menginfus atau tindakan lainnya. aku senang saja. masih ingat kan mottoku di IGD? aku takkan duduk kalau masih ada kakak2 perawatku yang bekerja. aku di sini bertugas mengikuti mereka. belajar dari mereka. itu gunanya di IGD kan?

 

sore ini pasien tak terlalu ramai. sesekali kami bercanda, bertukar cerita atau seperti biasa, saling ngegombal ria. aku perhatikan, memang hanya aku inilah koass yang hiperaktif di IGD RS satu ini. tapi, masa bodo amat. aku memang suka di sini.

 

jam tujuh malam, mas A memanggilku makan. katanya ada mie goreng. serius, aku pikir mie goreng dalam jumlah banyak, yang bisa dimakan sama-sama. setelah ke dapur, ternyata sebungkus mie instan yang hanya diseduh air panas. aku terbahak-bahak mengetahuinya. tapi toh aku makan juga. aku jujur saja tidak lapar, tapi sekedar ingin seru-seruan aja. rasa mie instan itu lumayan. aku menyukainya karena pakai bumbu ketulusan. makan sepiring berdua sambil cerita-cerita sungguh membuat aku makin terhibur.

 

malam itu aku dapat kesempatan mencoba pasang infus. tau kan bagaimana sulitnya memasang infus di rumah sakit ini? tapi aku boleh dapat kesempatan ini. senang rasanya. aku sangat berterima kasih pada kakak-kakakku. 

 

setelah makan aku sempat membantu mas A untuk memasukan obat supp untuk seorang ibu yang datang dengan kesakitan. ada dua obat supp itu, tapi kata dokter satu saja yang dimasukkan. aku ingat obat tersebut sudah aku kembalikan pada mas A.

 

menjelang akhir jam jaga, kami masih sempat bercanda dan bersenda gurau. tertawa-tawa sampai rasanya perutku kram. mas Y, mas A dan kak T, semuanya menjadi kawan bercanda yang paling mengasyikan. 

 

malam harinya saat aku sudah di kost, aku menemukan sebuah obat supp di saku snelliku. aku heran. apa iya tadi aku lupa mengembalikan obatnya? tapi seingatku, aku tak mengambil yang sisa satunya. Mas A yang pegang obat sisanya. jadi kemungkinan besar kalau obat itu ada di saku snelli-ku, maka Mas A lah yang meletakkannya tanpa sepengetahuanku. ah, baiknya mas nya aku yang satu ini.

 

aku selalu berterima kasih untuk kebaikan hati kakak-kakak semua. sudah tak terhitung rasanya berapa puluh kali aku dibantu, entah menyuntikan obat, entah mengerjakan tindakan, atau lainnya. aku sangat-sangat berterima kasih untuk setiap waktu yang pernah kita lewati sama-sama.

 

Metro, 28112012

 

 

 


Rabu, 21 November 2012

IGD 21-11-2012

hari ini sebuah pengalaman yang takkan aku lupakan terjadi di IGD tempat aku tengah bertugas sebagai koasisten anak. 

 

hari ini nyeri dadaku kambuh, setelah empat hari tanpa rasa sakit sama sekali setelah dapat suntikan analgetik. nyerinya tiba-tiba saja datang. pagi hari aku masih bertugas seperti biasa. masih tertawa-tawa, masih tugas di poliklinik seperti hari-hari sebelumnya. tapi sekitar jam dua belas siang, aku merasa dadaku nyeri. akhirnya aku coba minum satu kapsul analgetik yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. 

 

ternyata obat oral tidak banyak membantu lagi. aku putuskan untuk pakai analgetik iv. aku coba dengan ketorolac iv. mas made yang tengah dinas pagi aku mintai tolong untuk menyuntikkannya. itu kira-kira jam setengah satu. tapi setelah suntik pun, rasa sakitnya tidak banyak berkurang. mulai sekitar jam 13.15 aku malah merasakan sakit yang lebih hebat lagi. aku berharap tadinya bisa segera pulang, karena aku sudah tak lagi bisa menahan nyeri. aku masih berharap tidak perlu drip analgetik hari ini, karena tadi kan sudah suntik iv juga. tapi aku tidak kuat. sakit sekali. kawanku bilang wajahku sudah pucat, mungkin akibat menahan nyeri yang teramat sangat. aku benar-benar tidak tahu kenapa tiba-tiba nyerinya langsung teramat sangat seperti itu. biasanya kan tidak langsung sakit begitu. 

 

akhirnya aku putuskan untuk drip analgetik saja. aku minta tolong mas yos yang hari ini dinas siang. mas made yang sudah mau pulang terlihat terkejut melihat aku yang akan dipasang infus. aku katakan, ketorolac nya tak ada efeknya. aku masih merasakan nyeri yang amat sangat. 

berhubung siang itu di IGD ramai pasien, akhirnya aku istirahat di kamar jaga perawat. tak terbayang rasanya siang itu. nyeri luar biasa dan rasanya lemas. aku siang itu bahkan sudah pasrah kalau masih tidak berefek juga obatnya, mungkin aku sementara di IGD dulu, lanjut drip analgetiknya. tapi dalam hati aku berdoa, jangan sampai harus rawat inap. jangan sampai.

 

aku pasti bikin repot siang itu, karena pasang infusnya di belakang (di kamar jaga perawat) jadi tiang infus, alat-alat untuk pasang infus, semua harus dibawa ke belakang. mas made dengan baiknya mencarikan tiang infus, ka iges mondar-mandir mengambil kan jarum abocath. aku benar-benar terharu siang ini. air mata yang menetes sebagian karena menahan nyeri sebagian juga karena menahan rasa haru.  

 

akhirnya mas yos siang itu yang memasangkan infus untukku. aku sudah tak peduli lagi dengan rasa sakit ditusuk jarum infus, sebab dadaku jauh lebih nyeri. waktu ditusuk kedua kali, tiba-tiba saja lampu di IGD padam, membuat proses memasang infus ini jadi lebih terhambat. akhirnya dicoba dengan penerangan senter saja. yang terakhir aku ditemani kak yeti, yang dengan baik hati menemani sembari mengelus kepalaku. 

 

semenjak aku sering sekali merasakan ditusuk jarum, tidak banyak yang pernah menemani atau bahkan mengelus kepalaku seperti yang kak yeti lakukan untukku siang ini, alhasil aku makin terharu. jauh di seberang pulau sana, ada seseorang yang tak pernah menemaniku kalau aku harus merasakan pedihnya ditusuk jarum namun menghakimiku dengan sangat tanpa perasaan. di kota kecil ini, aku malah menemukan orang-orang terbaik. 

 

kak yeti masih sempat menemaniku sebelum akhirnya kembali bertugas, mas yos masih sempat mengambilkan selimut untuk aku jadikan bantal. kak iges pulang ke rumah sebentar dan setelah itu balik lagi menemaniku di IGD.

 

terakhir, saat aff infus, mas yoga yang melakukannya. masih seperti dulu pertama kali aku datang ke metro, mas yoga masih hobi mem-bully ku. entah kenapa mas ku yang satu ini senang sekali menggodaku. ada-ada saja tingkahnya. tadi aja banyak ritualnya hanya untuk aff infus. duh... 

 

tapi yang jelas, kutuliskan kisah ini di sini, sebab aku tak ingin melupakannya. aku ingin selalu mengingat kebaikan kakak-kakakku semua..

 

terima kasih mas made, mas yos, mas yoga, ka iges, ka yeti...

Metro, 21 november 2012

Jumat, 26 Oktober 2012

Kecupan yang Menyelamatkan

sejak aku duduk di bangku sekolah menengah, aku sangat sering mendengar kawan-kawan maupun guruku melayangkan pujian untuk tulisanku. oh ya, maksudku di sini, tulisan yang benar-benar tulisan, bukan hasil karya menulis. tulisan tanganku lebih tepatnya.

 

aku tak ingat lagi berapa banyak orang yang selalu mengatakan "tulisanmu bagus sekali" atau "tulisanmu rapi sekali" atau juga "tulisanmu kayak ketikan komputer". apalagi sejak aku kuliah dan lebih-lebih saat masa kepaniteraan klinik ini. aku sudah berkali-kali mendengar dokter konsulenku memuji, "tulisan kamu bagus dan rapi." atau sering juga sesama koas yang kebetulan meminjam catatanku akan bilang "rapi banget catatannya.."

 

mendengar pujian seperti itu aku biasanya hanya tersenyum. aku teringat sebuah pengalaman semasa aku kecil. pengalaman yang sudah terjadi sekitar delepan belas tahun silam. satu-satunya pengalaman yang tersisa di sudut ingatanku. pengalaman yang mempunyai peran besar dalam "tulisanku". 

 

tak ingat tahun berapa, TK B Tunas Jakasampurna..........

 

Ibu Lala selalu bilang tulisanku ini kurang rapi. dibandingkan dengan tulisan teman-teman sekelasku, tulisanku bukan main jeleknya. besar-besar menghabisi ruang di satu baris buku tulis. kayak gajah. tulisan raksasa. nggak enak dibaca. tapi ibu guruku tak pernah bilang tulisanku jelek. Ibu Lala cuma selalu bilang, "belajar menulis lebih rapi. tulisannya dibuat lebih kecil-kecil supaya lebih terlihat rapi." begitu Bu Lala, guru di kelas TK B ku berkata. setiap hari. 

 

berhari-hari selalu begitu. tulisan besar-besar yang tidak enak dibaca. tapi Bu Lala tak pernah marah. ia hanya selalu mengingatkan supaya aku mengecilkan ukuran tulisanku.

 

suatu hari, aku tak begitu ingat mengapa hal itu terjadi, tapi aku mengecilkan ukuran tulisanku menjadi hanya sepertiganya saja di buku tulisku. tulisanku yang seperti raksasa mengamuk itu tak nampak di halaman bukuku. aku menulis dengan huruf yang kecil-kecil.

 

seperti biasa, Bu Lala berkeliling untuk mengecek tugas menulis kami masing-masing. tiba di tempatku, Bu Lala nampak terperanjat. ia takjub melihat tulisan model baruku. huruf-huruf yang ukurannya tak seperti biasanya.

 

"Ini morin tulis sendiri?"

 

aku mengangguk.

 

aku lihat Ibu Lala tersenyum. ia nampak puas dengan hasil kerjaku. ia membaca tulisanku lebih lama dari biasanya, lalu ia menunduk di sebelahku. meja belajar kami waktu masih taman kanak-kanak sangat rendah, jadi Ibu Lala harus membungkuk bahkan setengah berjongkok untuk bisa lebih dekat denganku. 

 

aku tak pernah melupakan kata-katanya hari itu, "tulisan morin bagus sekali. tulisannya rapi. ibu senang sekali. karena morin berhasil menulis dengan rapi, mari sini, ibu cium..." dan ibu lala mengecup kedua pipiku yang masih mungil. tak terkira perasaanku saat itu. ada rasa bahagia yang membuncah begitu hebat di dadaku. aku rasanya ingin teriak bilang ke seluruh dunia kalau bu Lala baru saja menciumku karena tulisanku bagus.

 

kecupan itu terasa sangat dalam bagiku. tak sekedar mengecup pipiku namun sampai ke dasar hatiku. buktinya, aku tak pernah melupakan penggalan kenangan itu. sumpah, aku tak ingat kejadian-kejadian lain dalam masa umurku empat tahun. bahkan kejadian-kejadian di saat usiaku enam tahun atau tujuh tahun juga tak banyak aku ingat. tapi penggalan kejadian itu masih ada di lobus memoriku. aku masih ingat saat pipiku dikecup dengan lembut. rasa bangga dan terharu masih memenuhi hatiku hingga detik ini. 

 

sejak hari itu aku berjanji dalam hatiku, aku akan menulis dengan rapi dan lebih rapi lagi. aku akan selalu membuat tulisanku bagus dan enak dibaca. dan senang rasanya bahwa janji itu masih aku tepati hingga saat ini. setiap mendengar pujian atas tulisanku dialamatkan kepadaku, aku selalu teringat Ibu Lala. seorang guru yang tak pernah memarahiku dan malah menghadiahkan sebuah kecupan saat aku berhasil membuat tulisanku rapi.


------------


aku berjanji pada diriku sendiri, kelak kalau aku punya anak-anak nanti, aku akan selalu menghadiahkan pujian dan semangat kepada mereka saat mereka berhasil melakukan sesuatu yang baik. akan kuhadiahkan kecupan dan pelukan setiap kali mereka dengan bangga menunjukkan hasil terbaik mereka. bukan hanya soal prestasi di sekolah, tapi apa saja. aku akan mengecup mereka saat mereka bisa memasak mie instan sendiri, atau memberikan pelukan ketika mereka berani tampil di muka umum untuk membaca puisi atau menyanyi atau main drama...aku akan ada di sana, di manapun mereka sedang menunjukkan kebolehan mereka. aku akan menjadi panglima yang mengawal bukan presiden atas diri mereka yang menggunakan otoritasku dan mengerdilkan mimpi-mimpi mereka...


sebab sebuah kecupan, sebuah pelukan adalah "kisah penyelamatan" yang sederhana namun sangat mengena. banyak cerita seseorang membatalkan niatnya bunuh diri hanya karena datang "malaikat" yang tanpa tahu kesedihan apa yang tengah menyelimutinya, tiba-tiba memeluknya dengan tulus.


dan karena aku berdiri dengan profesiku yang bukan menjadi seorang guru, aku tak dapat memeluk murid-muridku dengan penuh cinta dan semangat. sebagai gantinya, aku memeluk pasien-pasienku. aku ingin selalu ada di dekat mereka di saat-saat tertentu, di mana aku tak ingin dianggap sebagai seorang koasisten, melaikan lebih kepada seorang sahabat. aku menyediakan waktu untuk duduk di samping mereka, mendengarkan lalu memeluk mereka dengan sepenuh hatiku. tapi soal pelukan ini, biarlah aku cerita di lain kesempatan.


"terima kasih, Ibu Lala. dimanapun Ibu berada saat ini, tanpa kecupan yang menyelamatkan itu, saya takkan menjadi manusia seperti sekarang ini. saya pernah merasakan betapa bahagianya mendapatkan sebuah kecupan untuk hal-hal yang pasti orang lain menganggapnya sangat sepele, dan dari hal sekecil itu saya belajar untuk juga memberikan kecupan dan pelukan kepada mereka yang paling membutuhkannya.."

Rabu, 24 Oktober 2012

suatu senja

tidak perlu dipertanyakan juga,

aku yang memilih ingin melarikan diri...

dari segala tanya sepucuk harapan yang sudah jadi sia-sia.


buat apa terus melangkah membawa segenggam asa,

bila nyatanya langkah ini adalah kematian yang dipercepat?

menggugurkan satu per satu semua bagan hidup yang aku junjung tinggi

mengapa, aku melewatinya tanpa sesiapapun?


sudah terlambat untuk bertanya "mengapa",

hapuslah setiap tanda tanya yang singgah dan mengusik hatimu

sudah cukuplah rasa nyaman yang tersisa di sini,

sebagai manusia yang bekerja tanpa hati,

sebegai seseorang yang jadi robot untuk masa depan..


sudah terlambat untuk merekonsiliasi segala yang sudah terjadi,

sudah terlalu dalam terjerembab dan aku sudah terlalu lama menyimpan luka hati..

sekarang, tak lagi mampu mengatasinya. jauh sudah melewati ambang batasku


aku bersumpah takkan pernah kembali...



berbahagialah mereka yang mati muda... GIE


Jumat, 12 Oktober 2012

pertemuan (poliklinik THT 12-10-12)

 

Namanya Andika. lengkapnya aku tidak ingat. seorang laki-laki dengan usia yang di status pasien itu tertulis dua puluh dua tahun. perawakannya tidak ada yang spesial di mataku. wajahnya lonjong dengan rambut-rambut halus di dagunya. kacamata ovalnya juga tak mencuri perhatianku. jujur saja laki-laki dengan kaca mata berbingkai persegi jauh lebih menarik buatku. tingginya tidak jauh melebihiku. tipe mahasiswa (kalau dia kuliah) yang sepertinya tidak hobi tawuran, tidak hobi fitness juga. terlihat betul dari bentuk tubuhnya yang biasa-biasa saja. tak ada otot-otot tegap yang menyembul dari lengan bajunya. malah terlihat seperti anak kost kurang uang makan. penampilannya sederhana dan nampak begitu tenang.

 

tapi yang menarik perhatianku justru buku dalam genggamannya. TRAVEL WRITER. dari awal aku memanggil namanya untuk masuk ke poli THT tempat aku tengah bertugas sebagai koasisten di salah satu rumah sakit di depok, aku sudah tak bisa memalingkan mataku dari buku itu. buku yang menyita seluruh perhatianku sepanjang ia ada di dalam poliklinik.

 

datang ke poli THT untuk membuat surat keterangan sehat dalam arti telinga hidung dan tenggorokannya dalam batas normal. ia membutuhkan surat itu untuk belajar diving! aku makin memperhatikannya. laki-laki yang terlihat biasa saja di awal masuk poli kini jadi luar biasa. bukunya tentang travel writer lalu sekarang dia mau belajar diving. luruh sudah kesan pertamaku tentangnya. sekarang di kepalaku terbayang, dia pasti seorang pengelana. penakluk alam. hobi traveling. hobi menulis. sekarang dia tertarik menyelami dalamnya samudera.  

 

aku langsung meraih map statusnya begitu ia keluar dari ruangan poliklinik. aku buru-buru keluar dengan maksud ingin mengejarnya. pikiran itu datang begitu saja sehingga aku tak lagi sempat berpikir kenapa aku ingin mengejarnya. aku cuma tahu, aku ingin melihatnya. 

 

aku meletakkan map di atas meja perawat dengan terburu-buru dan begitu aku membalik badan, laki-laki itu ada tepat di belakangku. jantungku berdegup cepat. tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. kehilangan keberanianku. tiba-tiba aku lupa kalau aku pakai jas putih. aku seharusnya bisa lebih tenang. tapi perasaan ini terlalu mendadak. kehadirannya terlalu terburu-buru. dan aku hanya punya waktu yang singkat.

pernahkah kau merasakan waktu berhenti saat semua terasa mendadak. aku seperti boneka yang hilang jati diri. kaku. tak mampu bergerak. tak mampu membuka pembicaraan. mataku masih menunduk menatap buku dalam genggamannya.

 

"suka nulis atau suka travelling?" tanyanya dengan sikap yang begitu percaya diri.  jauh dari penilaianku saat pertama melihatnya tadi. ia sepertinya bukan tipe laki-laki yang suka ragu-ragu.

 

aku mengangkat wajahku, memberanikan diri menatap matanya untuk pertama kali. "maksudnya?"

 

"dari tadi kamu lihatin buku ini kan?" ujarnya lagi sembari memamerkan bukunya. kali ini sebuah senyum bermain di bibirnya.

 

ya Tuhan! dia tahu aku memperhatikan bukunya. aku makin salah tingkah dibuatnya. aku harus bilang apa? waktu terlalu singkat kalau aku ingin mengatakan padanya aku juga suka travelling, aku ingin suatu saat bisa jadi seorang backpacker dan keliling Eropa, atau harus aku katakan padanya aku juga senang menulis dan pasti akan menyenangkan kalau bisa menulis kisah perjalanan. atau harus aku bilang bahwa aku menyukai laut dan bermimpi suatu saat bisa pergi menyelam di samudera Indonesia. 

 

tapi aku tak punya banyak waktu dan tak punya cukup keberanian. siapa aku sampai harus bercerita begitu banyak?

 

"selesai tugas jam berapa?" tanyanya membuyarkan lamunan sesaatku.

 

"jam satu siang." jawabku.

 

"keberatan kalau aku menunggu di lobi bawah?"

 

aku melongo. menungguku? buat apa? sebagian hatiku melonjak senang. mungkin dia punya indera keenam. mungkin dia tahu aku belum ingin berpisah dengannya. atau mungkin dia merasakan sebuah perasaan yang sama. sama-sama ingin bercerita. 

 

"kalau kamu nggak keberatan sih. kita bisa ngobrol-ngobrol soal apa saja. morina kan nama kamu?"

 

untuk kesekian kalinya aku terpana saat ia menyebutkan namaku. "tau dari mana?"

 

"itu.." katanya sembari menunjuk nametag di snelli ku.

 

aku tersenyum, "oke. jam satu." kataku. 

 

buru-buru aku meninggalkannya dan kembali masuk ke poli tempat aku bertugas. aku tak bisa berlama-lama. aku masih harus bertugas.

 

aku menarik nafas panjang. kulihat jam dinding di poli yang menunjukkan pukul sebelas siang. tiba-tiba saja aku ingin jam satu segera datang. aku tak sabar ingin menemuinya lagi. jauh di dasar hatiku, aku berharap ia benar menungguku di lobi bawah. 


***

Rabu, 10 Oktober 2012

perbatasan

setiap hal ada ambang batasnya. aku sudah jauh melampauinya. aku sudah ingin menyerah dan sudah waktunya untuk berkata "tidak".

 

semua toh sia-sia kalau aku mengutarakannya. kau takkan pernah mengerti, sekalipun jauh menyelami apa ranah alam jauh dibawah kesadaran. sudah terlalu jauh aku dirusak. 

 

 sudah waktunya aku mengambil keputusanku sendiri


Minggu, 07 Oktober 2012

dan mereka takkan mengerti



mereka akan menganggap aku hanya berlari dari kenyataan, padahal saat ini aku tengah berusaha sendiri menerima dan ikhlas dengan kenyataan. aku hanya tak tahu dari mana harus mengatakannya. mereka tidak akan mengerti. ini rumit. apa aku harus menceritakan secara detail dan membangun kembali trauma yang tiba-tiba hadir lalu membuat hari-hariku serasa dipenuhi ketakutan.

 

 

ah, aku yakin sekali, mereka tidak akan pernah mengerti. tidak akan pernah.  menurutmu, ini pasti gila bukan? bagaimana peristiwa sekecil itu menjadi pencetus yang tiba-tiba membuatku ingin menghapusnya. aku tak pernah ingin kejadian hari itu duputar ulang bahkan di dalam batok kepalaku sendiri. aku enggan menolehnya lagi. 



apa aku berlebihan mengatakannya? bahwa aku tiba-tiba merasa kacau, mendapati diriku sendiri diliput trauma yang takkan pernah mereka mengerti. bukankah seperti ini agak tak masuk di akal? jadi bagaimana aku berupaya menjelaskannya? bahwa lebih baik kuhadapi kematian daripada sekali lagi menghadapi peristiwa itu. 



aku sudah tak mau peduli dengan seribu satu alasan atau sejuta pengertian yang berusaha diendapkan dalam pikiranku. aku tak mau melihat lagi dari sudut pandang mereka. ini aku. ini hidupku. ini sudut pandangku. mungkin sudah terlambat untuk "menemaniku" sebab aku sudah terlalu jauh terjerembab ke dasar terdalam.


tahukah mereka bahkan aku ketakutan membayangkan sosoknya? tahukah mereka bahwa setiap langkahku menuju rumah di hari itu penuh dengan air mata? dadaku sesak, bukan karena nafasku yang tercekat akibat kelainan organik, namun karena jutaan perasaan campur aduk di sana.


aku berusaha memaafkan, namun butuh waktu untuk menerimanya. aku masih dibalut ketakutanku sendiri. mungkin mereka takkan paham tentang tubuhku yang kini mendadak bergidik bila membayangkan peristiwa itu. bahwa aku akan langsung menutup mata dan mengenyahkan segala hal yang dapat mengingatkanku pada hari itu. maaf. sungguh maaf. aku takkan sanggup lagi. aku tak punya berani sebanyak itu.


aku benar-benar tak ingin menceritakannya. aku memilih membawanya sendiri dalam diriku dan aku tak ingin apa yang sudah aku kubur dalam-dalam di sini, harus kembali menguak. lupakan saja. aku sudah menyerah.