Jumat, 26 Oktober 2012
Rabu, 24 Oktober 2012
suatu senja
tidak perlu dipertanyakan juga,
aku yang memilih ingin melarikan diri...
dari segala tanya sepucuk harapan yang sudah jadi sia-sia.
buat apa terus melangkah membawa segenggam asa,
bila nyatanya langkah ini adalah kematian yang dipercepat?
menggugurkan satu per satu semua bagan hidup yang aku junjung tinggi
mengapa, aku melewatinya tanpa sesiapapun?
sudah terlambat untuk bertanya "mengapa",
hapuslah setiap tanda tanya yang singgah dan mengusik hatimu
sudah cukuplah rasa nyaman yang tersisa di sini,
sebagai manusia yang bekerja tanpa hati,
sebegai seseorang yang jadi robot untuk masa depan..
sudah terlambat untuk merekonsiliasi segala yang sudah terjadi,
sudah terlalu dalam terjerembab dan aku sudah terlalu lama menyimpan luka hati..
sekarang, tak lagi mampu mengatasinya. jauh sudah melewati ambang batasku
aku bersumpah takkan pernah kembali...
berbahagialah mereka yang mati muda... GIE
Jumat, 12 Oktober 2012
pertemuan (poliklinik THT 12-10-12)
Namanya Andika. lengkapnya aku tidak ingat. seorang laki-laki dengan usia yang di status pasien itu tertulis dua puluh dua tahun. perawakannya tidak ada yang spesial di mataku. wajahnya lonjong dengan rambut-rambut halus di dagunya. kacamata ovalnya juga tak mencuri perhatianku. jujur saja laki-laki dengan kaca mata berbingkai persegi jauh lebih menarik buatku. tingginya tidak jauh melebihiku. tipe mahasiswa (kalau dia kuliah) yang sepertinya tidak hobi tawuran, tidak hobi fitness juga. terlihat betul dari bentuk tubuhnya yang biasa-biasa saja. tak ada otot-otot tegap yang menyembul dari lengan bajunya. malah terlihat seperti anak kost kurang uang makan. penampilannya sederhana dan nampak begitu tenang.
tapi yang menarik perhatianku justru buku dalam genggamannya. TRAVEL WRITER. dari awal aku memanggil namanya untuk masuk ke poli THT tempat aku tengah bertugas sebagai koasisten di salah satu rumah sakit di depok, aku sudah tak bisa memalingkan mataku dari buku itu. buku yang menyita seluruh perhatianku sepanjang ia ada di dalam poliklinik.
datang ke poli THT untuk membuat surat keterangan sehat dalam arti telinga hidung dan tenggorokannya dalam batas normal. ia membutuhkan surat itu untuk belajar diving! aku makin memperhatikannya. laki-laki yang terlihat biasa saja di awal masuk poli kini jadi luar biasa. bukunya tentang travel writer lalu sekarang dia mau belajar diving. luruh sudah kesan pertamaku tentangnya. sekarang di kepalaku terbayang, dia pasti seorang pengelana. penakluk alam. hobi traveling. hobi menulis. sekarang dia tertarik menyelami dalamnya samudera.
aku langsung meraih map statusnya begitu ia keluar dari ruangan poliklinik. aku buru-buru keluar dengan maksud ingin mengejarnya. pikiran itu datang begitu saja sehingga aku tak lagi sempat berpikir kenapa aku ingin mengejarnya. aku cuma tahu, aku ingin melihatnya.
aku meletakkan map di atas meja perawat dengan terburu-buru dan begitu aku membalik badan, laki-laki itu ada tepat di belakangku. jantungku berdegup cepat. tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. kehilangan keberanianku. tiba-tiba aku lupa kalau aku pakai jas putih. aku seharusnya bisa lebih tenang. tapi perasaan ini terlalu mendadak. kehadirannya terlalu terburu-buru. dan aku hanya punya waktu yang singkat.
pernahkah kau merasakan waktu berhenti saat semua terasa mendadak. aku seperti boneka yang hilang jati diri. kaku. tak mampu bergerak. tak mampu membuka pembicaraan. mataku masih menunduk menatap buku dalam genggamannya.
"suka nulis atau suka travelling?" tanyanya dengan sikap yang begitu percaya diri. jauh dari penilaianku saat pertama melihatnya tadi. ia sepertinya bukan tipe laki-laki yang suka ragu-ragu.
aku mengangkat wajahku, memberanikan diri menatap matanya untuk pertama kali. "maksudnya?"
"dari tadi kamu lihatin buku ini kan?" ujarnya lagi sembari memamerkan bukunya. kali ini sebuah senyum bermain di bibirnya.
ya Tuhan! dia tahu aku memperhatikan bukunya. aku makin salah tingkah dibuatnya. aku harus bilang apa? waktu terlalu singkat kalau aku ingin mengatakan padanya aku juga suka travelling, aku ingin suatu saat bisa jadi seorang backpacker dan keliling Eropa, atau harus aku katakan padanya aku juga senang menulis dan pasti akan menyenangkan kalau bisa menulis kisah perjalanan. atau harus aku bilang bahwa aku menyukai laut dan bermimpi suatu saat bisa pergi menyelam di samudera Indonesia.
tapi aku tak punya banyak waktu dan tak punya cukup keberanian. siapa aku sampai harus bercerita begitu banyak?
"selesai tugas jam berapa?" tanyanya membuyarkan lamunan sesaatku.
"jam satu siang." jawabku.
"keberatan kalau aku menunggu di lobi bawah?"
aku melongo. menungguku? buat apa? sebagian hatiku melonjak senang. mungkin dia punya indera keenam. mungkin dia tahu aku belum ingin berpisah dengannya. atau mungkin dia merasakan sebuah perasaan yang sama. sama-sama ingin bercerita.
"kalau kamu nggak keberatan sih. kita bisa ngobrol-ngobrol soal apa saja. morina kan nama kamu?"
untuk kesekian kalinya aku terpana saat ia menyebutkan namaku. "tau dari mana?"
"itu.." katanya sembari menunjuk nametag di snelli ku.
aku tersenyum, "oke. jam satu." kataku.
buru-buru aku meninggalkannya dan kembali masuk ke poli tempat aku bertugas. aku tak bisa berlama-lama. aku masih harus bertugas.
aku menarik nafas panjang. kulihat jam dinding di poli yang menunjukkan pukul sebelas siang. tiba-tiba saja aku ingin jam satu segera datang. aku tak sabar ingin menemuinya lagi. jauh di dasar hatiku, aku berharap ia benar menungguku di lobi bawah.
***
Rabu, 10 Oktober 2012
perbatasan
setiap hal ada ambang batasnya. aku sudah jauh melampauinya. aku sudah ingin menyerah dan sudah waktunya untuk berkata "tidak".
semua toh sia-sia kalau aku mengutarakannya. kau takkan pernah mengerti, sekalipun jauh menyelami apa ranah alam jauh dibawah kesadaran. sudah terlalu jauh aku dirusak.
sudah waktunya aku mengambil keputusanku sendiri
Minggu, 07 Oktober 2012
dan mereka takkan mengerti
mereka akan menganggap aku hanya berlari dari kenyataan, padahal saat ini aku tengah berusaha sendiri menerima dan ikhlas dengan kenyataan. aku hanya tak tahu dari mana harus mengatakannya. mereka tidak akan mengerti. ini rumit. apa aku harus menceritakan secara detail dan membangun kembali trauma yang tiba-tiba hadir lalu membuat hari-hariku serasa dipenuhi ketakutan.
ah, aku yakin sekali, mereka tidak akan pernah mengerti. tidak akan pernah. menurutmu, ini pasti gila bukan? bagaimana peristiwa sekecil itu menjadi pencetus yang tiba-tiba membuatku ingin menghapusnya. aku tak pernah ingin kejadian hari itu duputar ulang bahkan di dalam batok kepalaku sendiri. aku enggan menolehnya lagi.
apa aku berlebihan mengatakannya? bahwa aku tiba-tiba merasa kacau, mendapati diriku sendiri diliput trauma yang takkan pernah mereka mengerti. bukankah seperti ini agak tak masuk di akal? jadi bagaimana aku berupaya menjelaskannya? bahwa lebih baik kuhadapi kematian daripada sekali lagi menghadapi peristiwa itu.
aku sudah tak mau peduli dengan seribu satu alasan atau sejuta pengertian yang berusaha diendapkan dalam pikiranku. aku tak mau melihat lagi dari sudut pandang mereka. ini aku. ini hidupku. ini sudut pandangku. mungkin sudah terlambat untuk "menemaniku" sebab aku sudah terlalu jauh terjerembab ke dasar terdalam.
tahukah mereka bahkan aku ketakutan membayangkan sosoknya? tahukah mereka bahwa setiap langkahku menuju rumah di hari itu penuh dengan air mata? dadaku sesak, bukan karena nafasku yang tercekat akibat kelainan organik, namun karena jutaan perasaan campur aduk di sana.
aku berusaha memaafkan, namun butuh waktu untuk menerimanya. aku masih dibalut ketakutanku sendiri. mungkin mereka takkan paham tentang tubuhku yang kini mendadak bergidik bila membayangkan peristiwa itu. bahwa aku akan langsung menutup mata dan mengenyahkan segala hal yang dapat mengingatkanku pada hari itu. maaf. sungguh maaf. aku takkan sanggup lagi. aku tak punya berani sebanyak itu.
aku benar-benar tak ingin menceritakannya. aku memilih membawanya sendiri dalam diriku dan aku tak ingin apa yang sudah aku kubur dalam-dalam di sini, harus kembali menguak. lupakan saja. aku sudah menyerah.
Sabtu, 06 Oktober 2012
kepada Tuhan
Tuhan, adalah Maha tahu. dalam pengertianku, Ia mengetahui segala sesuatu sebelum segala sesuatu terjadi. Ia melihat sebelum sesuatu muncul ke permukaan.
hatiku ciut, mendengar ceritanya. aku ingin bertanya kepada Tuhan, entah lewat angin, lewat pepohonan yang aku temui di sepanjang jalan menuju gereja kecil ini, atau lewat lonceng-lonceng gereja yang masih bergema. gaungnya masih tersisa di tulang-tulang pendengaranku.
seorang ibu, yang mencari dana untuk operasi putranya. seorang ibu yang harus menggadaikan agamanya demi masa depan anaknya. tidakkah aku punya jutaan alasan untuk bertanya kepada Tuhan, ini soal apa? Ia kah yang merencanakannya? aku ingin bertemu dengan-Nya dan bertanya, benarkah Engkau hanya satu? lalu mengapa harus banyak jalan menuju-Mu? jalan yang selalu bersimpangan, bersinggungan dan menjadi celah bagi lucifer untuk menarik jiwa-jiwa menuju kegelapan?
mana yang salah, Tuhan? ibu yang menggadaikan jubah "agama" nya demi darah daging yang berasal dari Engkau, atau para brengsek dan para kafir yang memaksanya memilih hal yang sebenarnya bukan pilihan. atau baiklah aku bertanya, akan berpalingkah wajah-Mu daripadanya bila ia tak lagi mengatup tangan dan membuat tanda salib jika berdoa? apa Kau akan meninggalkannya? karena ia memilih putranya, yang Kau hadiahkan kepadanya?
ataukah ini cuma cara-Mu menguji, seperti Kau menguji kesetiaan Abraham? namun mengujikah bila materi yang harus bicara? tidak dapatkah Kau jamah kelembutan hati para dokter-dokter atau siapapun, yang mau membantu namun tak memaksa? atau sebenarnya Kau menginginkan perempuan ini diam saja? seperti Maria, yang pasrah saat Kau memikul salib kematian-Mu ke Golgota?
berikanlah aku pengertian, untuk mencerna, untuk tidak memihak, untuk melihat segalanya dari sudut pandang-Mu yang juga belum mampu aku selami seutuhnya. aku tak pandai mencari makna di balik setiap peristiwa. aku gila memikirkan ini semua. tentang siapa yang salah, siapa yang patut dipersalahkan atau siapa yang tak pernah benar.
tidak ada seorang ibu yang tidak berjuang bila melihat anaknya terbaring menanggung derita. tak ada ibu yang ragu ketika berhadapan dengan maut kalau hal tersebut dapat menolong anaknya. bukankah ibu adalah pencitraan Tuhan yang Maha lembut?
jadi, kepada Pemilik semesta, bisakah aku mengirim jutaan tanya ini dan mendapatkan jawabnya? tak sayangkah Engkau kepada mereka yang papa? yang terbelit persoalan dan hilang arah? aku hanya ingin lebih memahami, mana yang jauh lebih tinggi harkatnya? kehidupan atau sepotong kata bernama "agama"
Langganan:
Postingan (Atom)

