Sabtu, 08 September 2012
Senin, 20 Agustus 2012
Masa Kecil Soekarno
Soekarno merupakan anak dari Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayahnya berasal dari Jawa sementara ibunya berasal dari Bali .
Tidak seorangpun pada masa kecil Soekarno yang bisa meramalkan kelak Soekarno kecil akan menjadi seorang pemimpin besar, bahkan menjadi salah satu tokoh yang membawa bangsa Indonesia kepada kemerdekaan.
Masa balita dan kanak-kanak Soekarno masih tetap kelabu. Ekonomi orang tuanya yang pas-pasan, membuat hidup Soekarno terasa begitu sulit. Sehari-hari dia hanya makan tahu tempe dan sayur singkong. Namun walau begitu, Soekarno tidak pernah mengeluh. Dia tetap menggemari masakan sederhana itu, bahkan sampai ia menduduki bangku kepresidenannya.
Ketika Soekarno masih kecil, ia layaknya anak-anak seusianya. Tidak ada tanda-tanda yang membuat orang bisa menebak kelak dia akan menjadi orang besar. Namun satu hal yang menonjol dalam dirinya, Soekarno adalah seorang pemberani sekaligus senang berkelahi. Tak jarang Soekarno pulang dari sekolah dengan wajah yang babak belur. Tapi toh dia bangga. Walaupun tidak menguasai ilmu beladiri, namun dengan modal keberanian dan kenekadannya, Soekarno mampu mengalahkan lawan-lawannya.
Keberanian memang sebuah langkah awal menuju ke kemenangan. Dan sifat-sifat pemberaninya ini, sebenarnya memang diwarisinya dari kedua orang tuanya. Ida Ayu, ibunya, merupakan seorang keturunan bangsawan Bali yang dalam sejarah tercatat sebagai anti penjajah. Sedangkan Raden Soekemi, ayahnya, juga merupakan keturunan pejuang. Kakeknya dulu pernah ikut mendampingi Pangeran Diponegoro dalam menghadapi tentara Belanda.
Sejak masa kanak-kanaknya pun Soekarno telah membenci Belanda. Namun kebenciannya bukan tanpa alasan. Kebenciannya didasarkan pada sikap dan tingkah laku orang-orang Belanda yang amat merendahkan bangsanya.
Dalam pegaulan sehari-hari, Soekarno tidak jarang mengalami perlakukan yang kurang menyenangkan dari pada sinyo-sinyo Belanda.
Sikap keterlaluan ini pernah juga dialami Soekarno dengan gurunya sendiri, pada saat sekolahnya menyelenggarakan lomba menggambar. Soekarno memang memiliki bakat melukis sejak kecilnya. Dengan cepat dia mampu menyelesaikan lukisannya, bahkan dengan hasil yang paling bagus diantara yang lainnya. Ya, paling tidak menurut para pribumi pada umumnya. Namun ternyata gurunya berpendapat lain. Yang keluar sebagai pemenang dalam lomba tersebut justru temannya, orang Belanda. Sedangkan Soekarno hanya menduduki peringkat kedua. Padahal, lukisan temannya itu tidak lebih bagus dari lukisan Soekarno.
Sebagai anak-anak, Sekarno hidup sebagaimana anak muda pada umumnya. Suka berkelahi, suka mandi di kali, pergi memancing, atau nonton wayang. Nonton wayang ini juga merupakan saklah satu kegemarannya, bahkan hingga ia tuapun masih tetap disenanginya.
Soekarno mulai menunjukkan bakat kepemimpinannya ketika ia berusia sepuluh tahun. Saat itu ia sudah menjadi pemimpin kelompok dan memang nampak menonjol diantarateman-temannya yang lain. Di usianya yang kedua belas bahkan dia sudah memiliki ‘pasukan’ sendiri yang beberapa anggotanya berusia lebih tua darinya.
Kepribadian yang kuat, pemberani dan berbakat adalah hal-hal yang membuat teman-teman Soekarno senang bergaul dengannya. Soekarno selalu dijadikan pemimpin oleh teman-temannya. Selain itu juga, sering kali hal-hal apapun yang dilakukan Soekarno diikuti oleh teman-temannya yang lain.
suatu hari nanti
aku tidak ingin jadi aku yang seperti sekarang ini, juga untuk hari ini...
aku ingin seluruh kebebasan, yang belum sempat aku tangkup
setengah hidup untuk satu kebebasan yang mau aku raup
kalau selama ini sudah beratus aku taruhkan di bahuku sendiri, tak adakah sisa untuk aku melepaskannya dan pergi?
kita harus pergi ke ujung dunia,
ke tempat mahluk-mahluk tak bicara soal perbedaan
tak menyoal soal impianku beda dengan impian mereka
tempat ku ingin menghabiskan seluruh sisa hidup
hanya dengan manis dan tawa
sembari bersandar dibahumu yang nyaman
kita harus terasing dari dunia,
menjadi sebagian yang tak lagi ambil peduli
tentang hidup tentang rasa,
tentang cara berpikir kita yang sedikit gila
tapi aku tertawa dan kau bahagia
aku tak lagi jadi seperti yang tidak juga aku inginkan, sekalipun di hari ini
sudah terlampau banyak waktu yang jadi sia-sia
digaris lurus tanpa rona-rona lukis cerita kita
aku mau melarikan diri
sampai di batas kebebasanku
Senin, 06 Agustus 2012
Yang tersisa
aku merasa tersisih, setidaknya begitulah kalau aku merenunginya kembali. kalau aku boleh bilang pada Mr. X ini, yang jauh di sana mengobral seribu kata-kata manis.
aku cukup terkejut mendengar sepak terjangmu. kecewa. itu sudah pasti. siapa tak kecewa, ketika tak hanya aku yang menerima pesan singkatmu, ketika bukan hanya aku yang dijanjikan segala sesuatu yang manis.
aku ingat seseorang pernah mengatakan kepadaku, "seorang perempuan baik akan mendapatkan laki-laki yang baik pula suatu hari nanti, tapi dia harus bertemu dengan laki-laki yang tidak baik dulu, supaya dia tau mana sebenarnya laki-laki yang baik itu."
aku percaya kata-kata itu sekarang, setelah aku cukup terluka. aku tak mau lagi ingat semua canda kita di ujung malam. semuanya sudah berlalu. aku tak lagi ingin kembali, ke kota kecilmu, tempat aku harus merasa begitu kecewa.
Rabu, 01 Agustus 2012
Penyuluhan IMD 31 Juli - 1 Agustus 2012
dua hari ini aku dapat tugas baru di kepaniteraan kebidanan ini. Tugasku : presentasi di depan ibu-ibu yang sedang berobat di rumah sakit tempat aku menjalani kepaniteraan klinik. aku harus bicara tentang IMD. Inisiasi Menyusu Dini.
malam sebelum penyuluhan benar-benar malam yang melelahkan. ada dua operasi cito yang cukup "menegangkan" yang baru kelar sekitar jam tujuh malam, padahal operasi sudah berlangsung sejak jam dua siang. satu operasi KET dan satu lagi operasi histerectomy karena perdarahan post partum.
kelar dua operasi yang melelahkan itu, aku harus lanjut jaga malam. mungkin karena dari pagi sudah lelah, malamnya aku makin merasa kondisi tak cukup fit. untung IGD malam itu tak terlalu ramai. break satu jam dari IGD aku harus ke kamar dan membereskan poster-poster IMD yang belum kelar itu. Lelah sih, ditambah lagi kepalaku sakit bukan main. nyeri dada juga sudah datang berkunjung, menandakan aku sudah melampaui batas lelahku.
esok paginya pulang jaga malam aku masih harus bolak-balik STIKES pinjam alat-alat presentasi, masih harus mengurus ini itu dan terakhir didaulat jadi presentan.
mau pingsan rasanya kemarin. capek bukan main. tapi aku berusaha buat nampak tegar, nampak bersemangat di depan peserta-peserta dan terutama di depan dokter-dokterku.
Puji Tuhan hari pertama penyuluhan terasa lebih ringan melihat respon dari para peserta dan dokter-dokter yang hadir. rasa lelah dan letihku terbayar sudah setiap kali melihat audiens ku tertawa saat aku melemparkan lelucon-lelucon sederhana. senang rasanya. percaya diriku tumbuh lagi. mungkin ini adalah hasil dan buah saat di bangku sekolah menengah atas dulu, aku senang tampil untuk presentasi. aku senang mengajar. mungkin ini bakat yang diwariskan ayahku yang seorang guru bahasa Inggris.
1 Juli 2012, hari kedua penyuluhan dengan materi yang sama, sebenarnya bukan aku yang diwajibkan untuk presentasi (lagi), tapi atas beberapa pertimbangan, akhirnya aku yang kembali didaulat maju untuk mempresentasikan penyuluhan ini. sayangnya, hari ini dimulai dengan suasana hatiku yang sedang tak enak. aku badmood sekali sejak pagi. aku sedang jengkel, ditambah lagi dadaku sudah makin nyeri saja. Nggak lagi mempan dibantai dengan paracetamol. tapi baiklah, sekali lagi aku maju, berusaha menampilkan yang terbaik yang aku bisa.
Puji Tuhan hari inipun berlangsung dengan sangat baik. semua berjalan dengan lancar. aku sudah jauh lebih santai membawakan presentasi ini. mudah-mudahan bermanfaat buat semuanya. ini benar-benar pengalaman seru saat kepaniteraan obstetri dan gynekologi. aku belum sempat upload foto-fotonya. mungkin besok baru aku masukkan foto-fotonya.
Jumat, 27 Juli 2012
Pergilah dan belajarlah...
aku pernah baca novel Negeri 5 menara yang dituliskan oleh A. Fuadi, sebuah novel motivasi yang sangat bagus. salah satu bagian yang sangat aku ingat adalah bagian yang kurang lebih berpesan seperti ini..
"jangan takut merantau dan pergi ke negeri orang, kita akan dapat ganti banyak sahabat dan banyak pengalaman.."
kata-kata itu adalah peganganku ketika aku akan memulai masa kepaniteraanku. dan kejutan keren daru Tuhan soal masa kepaniteraanku ini adalah : aku ditempatkan di Lampung!
aku belum pernah ke Lampung sebelumnya, tidak tahu apa-apa soal Lampung. bayangkan, aku cuma tau soal Way Kambas yang dulu sering ada di pelajaran Geografi. Tapi selebihnya, Lampung itu kota yang bagaimana?
Tapi apa yang dikatakan A. Fuadi dalam novelnya yang fenomenal tersebut benar adanya. Pelan-pelan aku mulai jatuh hati di kota kecil yang tak terlalu ramai dan padat seperti di Jakarta.
di RS Imanuel Way Halim, tempat aku ditempatkan untuk belajar sebagai koasisten Bedah, aku dapat banyak pengalaman dan banyak sahabat-sahabat baru.
Di bangsal perempuan aku punya Kak Yayas tersayang, punya Kak Maria yang selalu jadi teman ngegosip di pagi hari saat menunggu konsulen visit, ada Mas Made, Mas Tri, Mas Jat, Mas Budi di bangsal cowok, ada Kak Vera yang selalu panggil aku "Cici" di bangsal anak karena katanya aku lebih mirip orang Chinese daripada orang Batak.
di Kamar Operasi aku punya Kak Anas tersayang, Kak Rina, yang pertama kali ajak aku untuk jadi asisten SC, ada Mas Lukas dan Mas Mawan yang paling baik..hi hi. Kangen ada di Kamar Operasi Imanuel :)
Di IGD aku punya Kak Tirta tersayang, Kak Tina, Kak Putri, Kak Made, Kak Reni, semuanya aku sayang. Semuanya baik banget. Aku selalu betah ada di IGD bersama mereka semua. Tambah seru kalau ada Mas Sulis dan Mas Rendra.
Malam ini aku kangen ada di kota kecil di pulau seberang ini. Ingin lagi memeluk kakak2 tersayangku. Kapan ya bisa balik lagi?
Senin, 14 September 2009
inilah hidup
masalah selanjutnya ttg dokter itu. koq dia tega banget ya sama gue. kalo mmg orang yg bisa ditanyain masalah jantung itu ada di kampus, ngapain gue harus nunggu 1 semester?? ngapain gue harus melalui malam2 yg menakutkan, kalau seharusnya itu semua nggak perlu gue lewati..
Langganan:
Postingan (Atom)

